Gerakan Pramuka pada pertengahan tahun 2006 ini mencanangkan revitalisasi Gerakan Pramuka yang disampaikan Pramuka Utama, Presiden SBY. Mampukah revitalisasi ini menjadi solusi permasalahan yang ada ?
Di sore hari yang tidak dapat dikatakan cerah, seorang anggota Dewan Kerja, sebutlah Jali namanya, sedang termenung-menung pulang dari sekretariat Kwartirnya. Pusing dia setelah membaca-baca tumpukan aturan yang dia lihat di sekretariatnya itu. Bukan pusing karena tebalnya, tapi pusing karena antara aturan dan yang dia lihat ternyata banyak bedanya. Akhirnya Jali memutuskan ke rumah pembinanya yang sudah lama ia tak temui, karena waktunya banyak habis mengurusi Dewan Kerja yang dikelolanya.
“Tumben kamu kemari, biasanya sibuk dengan Dewan Kerja sampai lupa dengan gudep ?” Pembinanya, Kak Goja, bertanya sambil minum kopi di depan rumahnya yang ramai dengan tukang ojek, karena rumahnya memang dekat dengan pangkalan ojek.
“Yah Kak, ngejek ya, mentang-mentang saya jarang hadir di gudep. Tapi, benar juga sih, sepertinya saya sendiri juga melanggar aturan yang ada. Kan ujung tombak pembinaan ada di gudep,”ujar Jali sedikit menyesali ketidak aktifannya.
“Lalu ada angin apa nih, sampai datang kemari?” Kak Goja bertanya sambil menyeruput kopinya. “Yah, silaturrahmi sih alasan basa-basinya Kak, yang kedua numpang makan nih, Kak.” Sambil nyengir Jali langsung meneruskan ucapannya, karena dia lihat pembinanya berkerut mendengar ucapannya,”Tapi, yang utama mau ngeluarkan uneg-uneg saya aja sih, Kak. Bingung saya melihat kondisi Gerakan Pramuka ini, karena ternyata antara aturan dengan realisasinya kok banyak bedanya ya.”
Dengan santai pembinanya menjawab,”Yah, tidak usah bingung lah, negara kacau aja para pejabat kita santai aja, apalagi Gerakan Pramuka. Seandainya Keppres Presiden RI nomor 238 tahun 1961 dicabut, misalkan Pak Amien Rais jadi Presiden, karena dia pendukung berdirinya Hizbul-Wathan, atau Hidayat Nur Wahid dengan Pandu Keadilan-nya, saya pikir masyarakat tidak terlalu peduli kok, paling-paling hanya menyesalkan atau sedikit pro-kontra, setelah itu hilang ditelan kasus lain.”
“Jadi, dibiarkan saja dong Kak dengan segala kejanggalan yang ada dalam Gerakan Pramuka?” Jali bertanya sambil terkaget-kaget mendengar ucapan pembinanya tersebut. “Sebenarnya kalau kita merasa ikut bertanggungjawab dengan keberadaan organisasi kepanduan ini, sudah selayaknya kita ikut berperan aktif dalam pembinaan generasi muda ini melalui kepanduan. Mungkin kalau Jali sering mendengar diskusi-diskusi yang ada, misalkan lewat milis atau ngobrol ala warung kopi banyak terdengar masalah dan ujung-ujungnya menyalahkan Kwarnas. Memang paling mudah menyalahkan kok, dan menghitung-hitung pamrih yang sudah diberikan. Namun, kalau menurut saya, mungkin sudah saatnya kita belajar untuk tidak selalu menyalahkan. Jadi, lakukan yang bisa kau lakukan. Lakukan dari yang mudah, bagimanapun langkah awal merupakan awal perubahan. So, ngapain juga harus bingung??? “Ya udah sana, kebetulan Kak Goja bikin Spaghetti, katanya lapar”, Goja menyuruh binaannya makan. Sambil ngeloyor ke meja makan, Jali nyeletuk,”Gaya spaghetti, biasa juga ikan asin pakai sayur asem.”
Di sore hari yang tidak dapat dikatakan cerah, seorang anggota Dewan Kerja, sebutlah Jali namanya, sedang termenung-menung pulang dari sekretariat Kwartirnya. Pusing dia setelah membaca-baca tumpukan aturan yang dia lihat di sekretariatnya itu. Bukan pusing karena tebalnya, tapi pusing karena antara aturan dan yang dia lihat ternyata banyak bedanya. Akhirnya Jali memutuskan ke rumah pembinanya yang sudah lama ia tak temui, karena waktunya banyak habis mengurusi Dewan Kerja yang dikelolanya.
“Tumben kamu kemari, biasanya sibuk dengan Dewan Kerja sampai lupa dengan gudep ?” Pembinanya, Kak Goja, bertanya sambil minum kopi di depan rumahnya yang ramai dengan tukang ojek, karena rumahnya memang dekat dengan pangkalan ojek.
“Yah Kak, ngejek ya, mentang-mentang saya jarang hadir di gudep. Tapi, benar juga sih, sepertinya saya sendiri juga melanggar aturan yang ada. Kan ujung tombak pembinaan ada di gudep,”ujar Jali sedikit menyesali ketidak aktifannya.
“Lalu ada angin apa nih, sampai datang kemari?” Kak Goja bertanya sambil menyeruput kopinya. “Yah, silaturrahmi sih alasan basa-basinya Kak, yang kedua numpang makan nih, Kak.” Sambil nyengir Jali langsung meneruskan ucapannya, karena dia lihat pembinanya berkerut mendengar ucapannya,”Tapi, yang utama mau ngeluarkan uneg-uneg saya aja sih, Kak. Bingung saya melihat kondisi Gerakan Pramuka ini, karena ternyata antara aturan dengan realisasinya kok banyak bedanya ya.”
Dengan santai pembinanya menjawab,”Yah, tidak usah bingung lah, negara kacau aja para pejabat kita santai aja, apalagi Gerakan Pramuka. Seandainya Keppres Presiden RI nomor 238 tahun 1961 dicabut, misalkan Pak Amien Rais jadi Presiden, karena dia pendukung berdirinya Hizbul-Wathan, atau Hidayat Nur Wahid dengan Pandu Keadilan-nya, saya pikir masyarakat tidak terlalu peduli kok, paling-paling hanya menyesalkan atau sedikit pro-kontra, setelah itu hilang ditelan kasus lain.”
“Jadi, dibiarkan saja dong Kak dengan segala kejanggalan yang ada dalam Gerakan Pramuka?” Jali bertanya sambil terkaget-kaget mendengar ucapan pembinanya tersebut. “Sebenarnya kalau kita merasa ikut bertanggungjawab dengan keberadaan organisasi kepanduan ini, sudah selayaknya kita ikut berperan aktif dalam pembinaan generasi muda ini melalui kepanduan. Mungkin kalau Jali sering mendengar diskusi-diskusi yang ada, misalkan lewat milis atau ngobrol ala warung kopi banyak terdengar masalah dan ujung-ujungnya menyalahkan Kwarnas. Memang paling mudah menyalahkan kok, dan menghitung-hitung pamrih yang sudah diberikan. Namun, kalau menurut saya, mungkin sudah saatnya kita belajar untuk tidak selalu menyalahkan. Jadi, lakukan yang bisa kau lakukan. Lakukan dari yang mudah, bagimanapun langkah awal merupakan awal perubahan. So, ngapain juga harus bingung??? “Ya udah sana, kebetulan Kak Goja bikin Spaghetti, katanya lapar”, Goja menyuruh binaannya makan. Sambil ngeloyor ke meja makan, Jali nyeletuk,”Gaya spaghetti, biasa juga ikan asin pakai sayur asem.”
No comments:
Post a Comment