Bukan omongan, tetapi kinerja ! (Parni Hadi)
Ketika salah satu organisasi pemuda dan kemahasiswaan dilantik, kebetulan sempat berbincang-bincang dengan salah seorang pengurusnya. Beliau mendapat tugas bagian kehumasan. “Apa kira-kira program anda ke depan selama kepengurusan ini?” Begitulah pertanyaan singkat yang kami ajukan. Beliau menjawab,”Kami akan mengadakan pelatihan jurnalistik yang tersebar di seluruh wilayah.” Kami bertanya lagi,”Mengapa pelatihan jurnalistik?” Beliau jelaskan,”Karena dengan mengadakan pelatihan jurnalistik, kami akan memiliki kader-kader yang siap membantu untuk mempublikasikan aktivitas-aktivitas kami melalui media massa yang mereka tekuni, baik media cetak maupun elektronik. Dengan demikian, kami tidak harus berpusing-pusing membuat media sendiri yang belum tentu efektif dan efisien.”
Demikianlah sedikit cuplikan dialog singkat yang pernah kami lakukan. Media massa memang merupakan sebuah kekuatan yang sangat efektif. Bahkan melalui media massa, suatu istilah menjadi terkenal, kata teroris misalkan. Akibat kata ini, melalui media massa suatu pemerintahan terguling. Bahkan seseorang menjadi terhukum akibat peran media massa, padahal orang tersebut belum tentu bersalah. Osama Bin Laden sebagai contoh. Dan bangsa Indonesia pun akibat media massa kehilangan salah satu provinsinya yang sudah banyak ditanam investasi di dalamnya. Karena dengan peran media massa bangsa Timor-Timur merasa mempunyai tokoh pemersatu yang akan memimpin mereka. Begitu pentingnya media massa, sampai-sampai dikatakan media massa sebagai salah satu unsur penegakan hukum dan pilar negara. Lalu, bagaimana dengan Gerakan Pramuka ?
Saking memperhatikan mengenai kehumasan, Gerakan Pramuka memiliki komisi kehumasan, baik di tingkat Kwarnas maupun Kwarda. Bahkan para andalan ataupun pembantu andalannya cukup banyak yang berasal dari kalangan dunia pers.
Kembali lagi ke konsep awal komunikasi, bahwa sesuatu hal akan diketahui atau orang lain diharapkan mengikuti keinginan apabila dikomunikasikan. Menurut Parni Hadi (2001), Gerakan Pramuka memerlukan komunikasi internal dan eksternal. Komunikasi internal dilakukan untuk mensosialisasikan apa saja yang terjadi di dalam atau dilakukan oleh sebuah organisasi agar dipahami dan didukung oleh semua anggota dan pengurus Gerakan Pramuka demi kebaikan dan mencapai tujuan organisasi. Komunikasi eksternal dilakukan untuk mensosialisasikan apa saja yang terjadi atau dilakukan oleh sebuah organisasi kepada dunia luar (publik) demi kebaikan dan mencapai tujuan organisasi.
Agar komunikasi internal dan eksternal efektif, mau tak mau akan berkaitan dengan sumber daya manusia yang dimiliki. Mungkin, seringkali terdengar bahwa setiap anggota Gerakan Pramuka adalah humas bagi Gerakan Pramuka. Memang benar adanya, bahwa setiap anggota Gerakan Pramuka haruslah menjadi humas bagi organisasinya, minimal dari tindakan sehari-harinya yang mencerminkan dia adalah seorang Pramuka. Bagaimanapun, masyarakat akan melihat hasil akhirnya yaitu manusia yang berbudi pekerti luhur dan berguna bagi masyarakat. Percuma saja digembar-gemborkan Gerakan Pramuka mendidik dan membina kaum muda agar menjadi anggota masyarakat yang peduli, teguh, mandiri dan tanggungjawab bagi masyarakatnya, sedangkan kenyataannya banyak Pramuka yang tawuran atau terlibat narkoba.
Namun, ini saja tidak cukup. Begitu banyak kegiatan yang dilakukan oleh Gerakan Pramuka, seperti Jambore, PW, Raimuna, Lomba tingkat, perkemahan Pramuka luar biasa, bakti Pramuka sampai Pramuka Peduli. Tetapi tetap saja timbul pertanyaan, “Pramuka kok tidak pernah kelihatan ada kegiatannya?” Pertanyaan ini timbul khususnya di daerah perkotaan. Wajar saja, selain kegiatannya yang lebih banyak dihutan, jadi tidak terlihat masyarakat kota dan memang tidak dikomunikasikan ke masyarakat. Apalagi kalau kegiatan itu yang mengelola adalah Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega.
Dewan Kerja sebagai wadah pembinaan kepemimpinan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega tentu saja dalam membantu Kwartir dibidang kehumasan seharusnya menekankan diri kepada ikut serta mengkader anggota Pramuka, khususnya Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat pelatihan, seperti pelatihan jurnalistik, pelatihan kameraman, dsb. yang berkaitan dengan media massa. Berbeda dengan Kwartir yang memang membutuhkan manusia siap pakai atau yang memang sudah berkecimpung dalam dunia media massa untuk membantu mempublikasikan kegiatannya, maka Dewan Kerja lebih kepada menyiapkan kader-kader yang akan berkecimpung dalam dunia media massa.
Untuk itu, sudah selayaknya salah satu program kerja prioritas Dewan Kerja, khususnya ditingkat nasional, daerah, dan cabang, yaitu mengadakan diklat jurnalistik atau lainnya yang berkaitan dengan media massa sesuai dengan sarana dan prasarana yang ada di daerah tersebut. Misalkan, DKD. Pada beberapa Kwarda, mereka memiliki majalah atau bulletin tersendiri. Dengan memanfaatkan majalah tersebut, Dewan Kerja dapat membentuk tim atau unit kegiatan jurnalistik Melalui tim tersebut mengadakan pelatihan jurnalistik dari cara menulis, cara mengedit, lay out sampai memasarkan majalah atau bulletin tersebut. Dan majalah atau bulletin tersebut sebagai media latihan dalam dunia jurnalistik, sehingga media Kwarda ini dikelola oleh tim jurnalistik yang notabene adalah Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega Selanjutnya, bekerjasama dengan surat kabar atau majalah yang profit-oriented mengadakan program magang bagi anggota yang telah bergabung dengan tim jurnalistik tersebut, misalkan sebelum menjadi redaktur atau dewan redaksi pada majalah yang dimiliki Kwarda harus pernah magang di suatu majalah atau surat kabar umum. Atau, apabila tidak dapat mengadakan pelatihan jurnalsitik dapat bekerjasama dengan media cetak yang telah mapan yang dilanjutkan sampai tingkat magang. Ini baru pada tingkat media cetak.
Begitu pula dalam media elektronik, radio misalkan. Khusus di pulau Jawa dan Sumatera hampir setiap kabupaten atau kota memiliki stasiun radio. Sebenarnya pada beberapa radio, mereka juga membuka program magang, baik untuk penyiar atau bagian teknisinya. Untuk itu, Dewan Kerja dapat pula mengadakan kerjasama mengadakan pelatihan broadcasting sampai pada tahap magang, misalnya. Begitu pula dalam bidang TV dan internet.
Agar program kerja ini berhasil, tentu saja Dewan Kerja haruslah bersikap serius penyelenggaraannya. Karena untuk hal ini berbeda dengan LPK atau KPDK, misalnya yang setelah pelatihan selesai. Untuk program ini perlu perencanaan yang matang, jangan sampai nasibnya babak belur seperti Brigade Penolong, ketika sudah tidak lagi ada bantuan dana selesai juga tim ini. Kalau tidak mau ruwet, bentuk Unit kegiatan Jurnalistik dan pilih anggota Dewan Kerja yang memang hobi dalam dunia jurnalistik untuk menjadi koordinatornya. Dengan demikian, tim ini dapat memiliki aktivitas yang jelas.
Kembali apabila dikaitkan dengan sarana dan prasarana, manfaatkanlah yang ada. Baik dengan melakukan kerjasama, apabila tidak memiliki media sendiri atau memanfaatkan media internal, seperti majalah atau bulletin yang dimiliki Kwartir untuk dikelola. Apabila dilakukan pendekatan secara intensif dan menunjukkan hasil yang baik, rasanya tidak ada alasan pengurus Kwartir yang baik tidak memberikan kepercayaan kepada Dewan Kerja melalui timnya untuk mengelola media majalah atau bulletin yang dimiliki Kwartir.
Dengan dana yang cukup dan nama yang dimiliki, sebenarnya majalah Pramuka sangat tepat sebagai kawah candradimuka bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk belajar dunia jurnalistik sebelum terjun di dalam dunia pers sebenarnya. Hal ini bercermin dengan beberapa majalah anak muda yang membuka praktek magang bagi kaum muda yang berminat dan memiliki kemampuan untuk hal ini. Dan kembali lagi bercermin dengan majalah mahasiswa atau yang dikelola mahasiswa, kalau mau jujur pengelolaan dan pendanaan majalah mahasiswa tidaklah terlalu baik. Namun, dengan modal semangat pantang menyerah banyak mahasiwa yang bergabung dalam majalah mahasiswa dikampus mereka yang ternyata terjun di dalam dunia pers. Dan mereka cukup berhasil.
Jadi, seperti yang diungkapkan Kak Parni Hadi dalam salah satu artikelnya, “Bukan omongan, tetapi kinerja !” Dewan Kerja mampu membantu Gerakan Pramuka mengkader manusia yang ahli dalam bidang kehumasan. Tinggal bagaimana caranya mengingatkan yang telah pernah dididik melalui Gerakan Pramuka mengatakan, “Saya adalah Pramuka di waktu muda”, seperti banyak orang tua kita yang bangga menyatakan, “Dulu waktu muda bapak adalah seorang pandu”.
Ketika salah satu organisasi pemuda dan kemahasiswaan dilantik, kebetulan sempat berbincang-bincang dengan salah seorang pengurusnya. Beliau mendapat tugas bagian kehumasan. “Apa kira-kira program anda ke depan selama kepengurusan ini?” Begitulah pertanyaan singkat yang kami ajukan. Beliau menjawab,”Kami akan mengadakan pelatihan jurnalistik yang tersebar di seluruh wilayah.” Kami bertanya lagi,”Mengapa pelatihan jurnalistik?” Beliau jelaskan,”Karena dengan mengadakan pelatihan jurnalistik, kami akan memiliki kader-kader yang siap membantu untuk mempublikasikan aktivitas-aktivitas kami melalui media massa yang mereka tekuni, baik media cetak maupun elektronik. Dengan demikian, kami tidak harus berpusing-pusing membuat media sendiri yang belum tentu efektif dan efisien.”
Demikianlah sedikit cuplikan dialog singkat yang pernah kami lakukan. Media massa memang merupakan sebuah kekuatan yang sangat efektif. Bahkan melalui media massa, suatu istilah menjadi terkenal, kata teroris misalkan. Akibat kata ini, melalui media massa suatu pemerintahan terguling. Bahkan seseorang menjadi terhukum akibat peran media massa, padahal orang tersebut belum tentu bersalah. Osama Bin Laden sebagai contoh. Dan bangsa Indonesia pun akibat media massa kehilangan salah satu provinsinya yang sudah banyak ditanam investasi di dalamnya. Karena dengan peran media massa bangsa Timor-Timur merasa mempunyai tokoh pemersatu yang akan memimpin mereka. Begitu pentingnya media massa, sampai-sampai dikatakan media massa sebagai salah satu unsur penegakan hukum dan pilar negara. Lalu, bagaimana dengan Gerakan Pramuka ?
Saking memperhatikan mengenai kehumasan, Gerakan Pramuka memiliki komisi kehumasan, baik di tingkat Kwarnas maupun Kwarda. Bahkan para andalan ataupun pembantu andalannya cukup banyak yang berasal dari kalangan dunia pers.
Kembali lagi ke konsep awal komunikasi, bahwa sesuatu hal akan diketahui atau orang lain diharapkan mengikuti keinginan apabila dikomunikasikan. Menurut Parni Hadi (2001), Gerakan Pramuka memerlukan komunikasi internal dan eksternal. Komunikasi internal dilakukan untuk mensosialisasikan apa saja yang terjadi di dalam atau dilakukan oleh sebuah organisasi agar dipahami dan didukung oleh semua anggota dan pengurus Gerakan Pramuka demi kebaikan dan mencapai tujuan organisasi. Komunikasi eksternal dilakukan untuk mensosialisasikan apa saja yang terjadi atau dilakukan oleh sebuah organisasi kepada dunia luar (publik) demi kebaikan dan mencapai tujuan organisasi.
Agar komunikasi internal dan eksternal efektif, mau tak mau akan berkaitan dengan sumber daya manusia yang dimiliki. Mungkin, seringkali terdengar bahwa setiap anggota Gerakan Pramuka adalah humas bagi Gerakan Pramuka. Memang benar adanya, bahwa setiap anggota Gerakan Pramuka haruslah menjadi humas bagi organisasinya, minimal dari tindakan sehari-harinya yang mencerminkan dia adalah seorang Pramuka. Bagaimanapun, masyarakat akan melihat hasil akhirnya yaitu manusia yang berbudi pekerti luhur dan berguna bagi masyarakat. Percuma saja digembar-gemborkan Gerakan Pramuka mendidik dan membina kaum muda agar menjadi anggota masyarakat yang peduli, teguh, mandiri dan tanggungjawab bagi masyarakatnya, sedangkan kenyataannya banyak Pramuka yang tawuran atau terlibat narkoba.
Namun, ini saja tidak cukup. Begitu banyak kegiatan yang dilakukan oleh Gerakan Pramuka, seperti Jambore, PW, Raimuna, Lomba tingkat, perkemahan Pramuka luar biasa, bakti Pramuka sampai Pramuka Peduli. Tetapi tetap saja timbul pertanyaan, “Pramuka kok tidak pernah kelihatan ada kegiatannya?” Pertanyaan ini timbul khususnya di daerah perkotaan. Wajar saja, selain kegiatannya yang lebih banyak dihutan, jadi tidak terlihat masyarakat kota dan memang tidak dikomunikasikan ke masyarakat. Apalagi kalau kegiatan itu yang mengelola adalah Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega.
Dewan Kerja sebagai wadah pembinaan kepemimpinan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega tentu saja dalam membantu Kwartir dibidang kehumasan seharusnya menekankan diri kepada ikut serta mengkader anggota Pramuka, khususnya Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat pelatihan, seperti pelatihan jurnalistik, pelatihan kameraman, dsb. yang berkaitan dengan media massa. Berbeda dengan Kwartir yang memang membutuhkan manusia siap pakai atau yang memang sudah berkecimpung dalam dunia media massa untuk membantu mempublikasikan kegiatannya, maka Dewan Kerja lebih kepada menyiapkan kader-kader yang akan berkecimpung dalam dunia media massa.
Untuk itu, sudah selayaknya salah satu program kerja prioritas Dewan Kerja, khususnya ditingkat nasional, daerah, dan cabang, yaitu mengadakan diklat jurnalistik atau lainnya yang berkaitan dengan media massa sesuai dengan sarana dan prasarana yang ada di daerah tersebut. Misalkan, DKD. Pada beberapa Kwarda, mereka memiliki majalah atau bulletin tersendiri. Dengan memanfaatkan majalah tersebut, Dewan Kerja dapat membentuk tim atau unit kegiatan jurnalistik Melalui tim tersebut mengadakan pelatihan jurnalistik dari cara menulis, cara mengedit, lay out sampai memasarkan majalah atau bulletin tersebut. Dan majalah atau bulletin tersebut sebagai media latihan dalam dunia jurnalistik, sehingga media Kwarda ini dikelola oleh tim jurnalistik yang notabene adalah Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega Selanjutnya, bekerjasama dengan surat kabar atau majalah yang profit-oriented mengadakan program magang bagi anggota yang telah bergabung dengan tim jurnalistik tersebut, misalkan sebelum menjadi redaktur atau dewan redaksi pada majalah yang dimiliki Kwarda harus pernah magang di suatu majalah atau surat kabar umum. Atau, apabila tidak dapat mengadakan pelatihan jurnalsitik dapat bekerjasama dengan media cetak yang telah mapan yang dilanjutkan sampai tingkat magang. Ini baru pada tingkat media cetak.
Begitu pula dalam media elektronik, radio misalkan. Khusus di pulau Jawa dan Sumatera hampir setiap kabupaten atau kota memiliki stasiun radio. Sebenarnya pada beberapa radio, mereka juga membuka program magang, baik untuk penyiar atau bagian teknisinya. Untuk itu, Dewan Kerja dapat pula mengadakan kerjasama mengadakan pelatihan broadcasting sampai pada tahap magang, misalnya. Begitu pula dalam bidang TV dan internet.
Agar program kerja ini berhasil, tentu saja Dewan Kerja haruslah bersikap serius penyelenggaraannya. Karena untuk hal ini berbeda dengan LPK atau KPDK, misalnya yang setelah pelatihan selesai. Untuk program ini perlu perencanaan yang matang, jangan sampai nasibnya babak belur seperti Brigade Penolong, ketika sudah tidak lagi ada bantuan dana selesai juga tim ini. Kalau tidak mau ruwet, bentuk Unit kegiatan Jurnalistik dan pilih anggota Dewan Kerja yang memang hobi dalam dunia jurnalistik untuk menjadi koordinatornya. Dengan demikian, tim ini dapat memiliki aktivitas yang jelas.
Kembali apabila dikaitkan dengan sarana dan prasarana, manfaatkanlah yang ada. Baik dengan melakukan kerjasama, apabila tidak memiliki media sendiri atau memanfaatkan media internal, seperti majalah atau bulletin yang dimiliki Kwartir untuk dikelola. Apabila dilakukan pendekatan secara intensif dan menunjukkan hasil yang baik, rasanya tidak ada alasan pengurus Kwartir yang baik tidak memberikan kepercayaan kepada Dewan Kerja melalui timnya untuk mengelola media majalah atau bulletin yang dimiliki Kwartir.
Dengan dana yang cukup dan nama yang dimiliki, sebenarnya majalah Pramuka sangat tepat sebagai kawah candradimuka bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk belajar dunia jurnalistik sebelum terjun di dalam dunia pers sebenarnya. Hal ini bercermin dengan beberapa majalah anak muda yang membuka praktek magang bagi kaum muda yang berminat dan memiliki kemampuan untuk hal ini. Dan kembali lagi bercermin dengan majalah mahasiswa atau yang dikelola mahasiswa, kalau mau jujur pengelolaan dan pendanaan majalah mahasiswa tidaklah terlalu baik. Namun, dengan modal semangat pantang menyerah banyak mahasiwa yang bergabung dalam majalah mahasiswa dikampus mereka yang ternyata terjun di dalam dunia pers. Dan mereka cukup berhasil.
Jadi, seperti yang diungkapkan Kak Parni Hadi dalam salah satu artikelnya, “Bukan omongan, tetapi kinerja !” Dewan Kerja mampu membantu Gerakan Pramuka mengkader manusia yang ahli dalam bidang kehumasan. Tinggal bagaimana caranya mengingatkan yang telah pernah dididik melalui Gerakan Pramuka mengatakan, “Saya adalah Pramuka di waktu muda”, seperti banyak orang tua kita yang bangga menyatakan, “Dulu waktu muda bapak adalah seorang pandu”.
No comments:
Post a Comment